PENDIDIKAN – Bahasa Cirebon Makin Tergerus Dewan Pendidikan Dorong Budaya Lokal Kembali Diperkuat Di Sekolah | Keberlangsungan Bahasa Cirebon menjadi perhatian Dewan Pendidikan Kota Cirebon. Penggunaan bahasa daerah yang dinilai semakin berkurang di kalangan generasi muda mendorong perlunya langkah nyata untuk memperkuat pelestarian bahasa dan budaya lokal melalui dunia pendidikan.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Cirebon, Kadini, S.Sos., M.A.P., menyampaikan persoalan tersebut dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Sejarah dan Kebudayaan Cirebon yang digelar di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon.
Menurut Kadini, perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, serta semakin beragamnya bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi tantangan bagi keberlangsungan Bahasa Cirebon. Kondisi ini perlu mendapat perhatian agar generasi muda tetap mengenal dan menggunakan bahasa daerahnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menegaskan, bahasa daerah bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan juga bagian dari sejarah dan identitas masyarakat. Karena itu, pelestarian Bahasa Cirebon perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, budayawan, hingga keluarga.
Sekolah Dinilai Punya Peran Penting : Salah satu langkah yang didorong adalah memperkuat pembelajaran Bahasa Cirebon di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Melalui pembelajaran tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami bahasa secara teori, tetapi juga mengenal nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Kadini menilai, penguatan muatan lokal Bahasa Cirebon perlu dikembangkan agar pembelajaran lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan begitu, bahasa daerah tidak hanya dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi juga dapat digunakan dalam komunikasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Program Kemis Nyerbon yang pernah didorong melalui surat edaran saat Kadini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon juga menjadi salah satu upaya membiasakan penggunaan bahasa dan budaya lokal di sekolah.
Namun, pelaksanaannya dinilai perlu terus diperkuat agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pembiasaan berbahasa Cirebon perlu didukung lingkungan sekolah dan keluarga sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mempraktikkannya secara konsisten.
Keterbatasan Guru Jadi Tantangan : Di sisi lain, penguatan pembelajaran Bahasa Cirebon masih menghadapi kendala berupa keterbatasan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus di bidang tersebut.
Kadini menyebut kebutuhan guru yang memahami Bahasa Cirebon menjadi salah satu persoalan yang perlu dicarikan solusi. Ketersediaan tenaga pengajar yang sesuai diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar mengandalkan buku atau materi tertulis.
Persoalan ini juga berkaitan dengan pengaturan penugasan guru, termasuk ketentuan sertifikasi dan kesesuaian latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran yang diampu. Karena itu, diperlukan pembahasan lebih lanjut untuk menemukan skema yang dapat mendukung pembelajaran bahasa daerah secara optimal.
Dewan Pendidikan Siapkan Tindak Lanjut : Sebagai tindak lanjut FGD, Dewan Pendidikan Kota Cirebon berencana mendorong penyelenggaraan lokakarya atau workshop untuk merumuskan rekomendasi penguatan sejarah dan kebudayaan Cirebon di lingkungan pendidikan.
Rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi Wali Kota Cirebon dan Dinas Pendidikan dalam menentukan langkah konkret, termasuk pengembangan muatan lokal, literasi budaya, serta pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar Bahasa Cirebon.
Upaya pelestarian ini dinilai tidak dapat dibebankan hanya kepada budayawan atau sekolah. Peran orang tua dan masyarakat juga diperlukan untuk mengenalkan serta membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Keberlangsungan Bahasa Cirebon pada akhirnya bergantung pada sejauh mana bahasa tersebut tetap digunakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Penguatan pendidikan, dukungan tenaga pengajar, serta pembiasaan di lingkungan keluarga menjadi bagian penting agar bahasa dan budaya Cirebon tetap dikenal oleh anak-anak pada masa mendatang.











