WISATA – Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon: Sejarah, Keunikan, dan Tradisi Adzan Pitu | Ada bangunan di Cirebon yang usianya telah melewati berabad-abad, tetapi hingga kini masih digunakan untuk beribadah. Bangunan tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan jejak perkembangan Islam, kebudayaan, arsitektur, dan perjalanan panjang Kesultanan Cirebon.
Bangunan itu adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang berada di kawasan Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon.
Masjid ini menjadi salah satu ikon sejarah Cirebon karena memiliki bentuk arsitektur yang khas, tradisi Adzan Pitu, serta sejumlah unsur bangunan yang berbeda dari kebanyakan masjid masa kini. Keberadaannya juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah Sunan Gunung Jati dan perkembangan Islam di Cirebon.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, terdapat perbedaan sumber mengenai tahun pembangunan masjid. Sumber resmi Pemerintah Kota Cirebon menyebut sekitar 1480 M, sementara penelitian arsitektur dan sejarah yang diterbitkan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung memperkirakan pembangunan sekitar 1498–1500 M. Karena itu, secara hati-hati masjid ini dapat ditempatkan sebagai bangunan yang lahir pada akhir abad ke-15.
Lantas, bagaimana sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa? Apa yang membuat arsitekturnya berbeda? Dan mengapa tradisi Adzan Pitu tetap menjadi bagian penting dari identitas masjid ini?

Sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon
Masjid Agung Sang Cipta Rasa berada di sebelah barat kompleks Keraton Kasepuhan. Posisi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara masjid, pusat pemerintahan, ruang publik, dan kehidupan masyarakat pada masa Kesultanan Cirebon. Pemerintah Kelurahan Kesepuhan mencatat bahwa tata kawasan tersebut menempatkan keraton, alun-alun, masjid, dan pasar sebagai bagian dari struktur kehidupan kota pada masa lalu.
Dalam sumber resmi Pemerintah Kota Cirebon, pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa disebut berlangsung sekitar 1480 Masehi atas prakarsa Sunan Gunung Jati dengan bantuan Sunan Kalijaga dan wali lainnya. Namun, penelitian Suwardi Alamsyah yang diterbitkan dalam jurnal Patanjala memperkirakan pembangunan berlangsung sekitar 1498–1500 Masehi.
Perbedaan tersebut penting disampaikan kepada pembaca. Sejarah bangunan kuno sering kali bersumber dari kombinasi naskah, penelitian arkeologi, tradisi lisan, dan catatan lokal sehingga detail tertentu dapat memiliki versi yang berbeda.
Dengan demikian, menyebut Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai masjid yang dibangun pada akhir abad ke-15 merupakan formulasi yang lebih hati-hati dibandingkan menetapkan satu tahun sebagai fakta tunggal.
Berkaitan dengan Sunan Gunung Jati
Nama Sunan Gunung Jati memiliki posisi penting dalam sejarah Cirebon. Dalam berbagai sumber sejarah dan tradisi lokal, pembangunan Masjid Sang Cipta Rasa dikaitkan dengan masa perkembangan Kesultanan Cirebon dan aktivitas dakwah Islam Sunan Gunung Jati.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat mencatat Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai salah satu bangunan bersejarah yang berkaitan dengan perkembangan Islam di Cirebon. Sumber tersebut juga menyebut Sunan Kalijaga sebagai tokoh yang memimpin pembangunan dan Pangeran Sepat dari Majapahit sebagai arsitek yang terlibat dalam perancangannya.
Karena sebagian informasi tersebut juga hidup dalam tradisi masyarakat, pembaca perlu membedakan antara data sejarah yang didukung penelitian dan kisah yang berkembang secara turun-temurun.
Dari Masjid Pakungwati hingga Sang Cipta Rasa
Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Pakungwati, yang berkaitan dengan nama Keraton Pakungwati, cikal bakal kawasan Keraton Kasepuhan.
Pemerintah Kelurahan Kesepuhan menjelaskan bahwa nama “Sang Cipta Rasa” dikaitkan dengan makna keagungan, pembangunan, dan penggunaan. Nama tersebut menjadi bagian dari identitas masjid hingga sekarang.
Perubahan dan perkembangan nama tersebut menunjukkan hubungan erat antara masjid dengan sejarah Kesultanan Cirebon.
Keraton Pakungwati sendiri kemudian dikenal sebagai Keraton Kasepuhan. Pemerintah Kelurahan Kesepuhan mencatat bahwa nama Pakungwati berkaitan dengan Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati.
Karena itu, ketika membicarakan sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa, sejarah keraton dan perkembangan Islam di Cirebon tidak dapat dipisahkan begitu saja.
Arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa yang Berbeda
Salah satu alasan Masjid Agung Sang Cipta Rasa tetap menarik perhatian hingga sekarang adalah arsitekturnya.
Masjid ini tidak menampilkan kubah besar seperti banyak masjid modern. Bangunannya justru memperlihatkan bentuk arsitektur tradisional Jawa dengan atap limasan dan berbagai unsur yang memperlihatkan pertemuan budaya.
Penelitian yang diterbitkan dalam Patanjala menyimpulkan bahwa arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa memadukan unsur budaya pra-Islam dalam bentuk, struktur, dan ragam hiasnya.
Inilah yang membuat masjid tersebut penting bukan hanya dari sisi keagamaan, tetapi juga dari perspektif sejarah arsitektur.
Tidak Mengandalkan Kubah
Tidak adanya kubah bukan berarti bangunan tersebut kehilangan karakter sebagai masjid.
Justru sebaliknya, bentuk atap limasan menjadi salah satu ciri yang membuatnya berbeda. Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat mencatat bahwa atap Masjid Sang Cipta Rasa berbentuk limasan dan tidak memiliki mahkota masjid di bagian puncaknya.
Bentuk tersebut memperlihatkan bagaimana bangunan keagamaan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya tempat Islam berkembang.
Dalam konteks Cirebon, perpaduan tersebut menjadi bagian dari karakter masyarakat pesisir yang sejak dahulu berinteraksi dengan berbagai kebudayaan.
Sembilan Pintu dan Filosofi Kerendahan Hati
Masjid Agung Sang Cipta Rasa juga dikenal memiliki sembilan pintu masuk dengan ukuran yang relatif rendah.
Sumber resmi Kelurahan Kesepuhan menyebut tinggi pintu sekitar 160 sentimeter. Pengunjung harus sedikit menundukkan badan ketika melewatinya. Dalam pemaknaan tradisional, tindakan tersebut dikaitkan dengan sikap hormat dan kerendahan hati atau tawadhu.
Keunikan ini membuat pintu masjid bukan hanya memiliki fungsi praktis.
Ia juga menjadi bagian dari simbol dan pengalaman ruang. Seseorang yang masuk ke dalam masjid diingatkan untuk meninggalkan kesombongan dan menempatkan dirinya dalam sikap yang lebih rendah hati.
Saka Tatal, Tiang yang Menjadi Ciri Khas
Salah satu unsur paling terkenal dari Masjid Sang Cipta Rasa adalah saka tatal.
Istilah tersebut berkaitan dengan potongan atau serpihan kayu yang disusun menjadi satu kesatuan. Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat mencatat adanya soko guru yang secara tradisi dikaitkan dengan Sunan Kalijaga dan dibuat dari tatal atau serpihan kayu yang disatukan.
Keberadaan saka tatal kemudian berkembang menjadi salah satu simbol yang paling sering dikaitkan dengan Masjid Sang Cipta Rasa.
Secara budaya, unsur tersebut juga menarik karena memperlihatkan cara masyarakat memaknai sebuah konstruksi bangunan bukan hanya berdasarkan fungsi teknis, tetapi juga nilai simboliknya.
Namun, cerita mengenai siapa tepatnya pembuat saka tatal dan detail proses pembuatannya tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari tradisi sejarah yang berkembang di masyarakat.
Tradisi Adzan Pitu yang Menjadi Identitas Masjid
Jika arsitektur merupakan keunikan visual Masjid Sang Cipta Rasa, maka Adzan Pitu menjadi salah satu tradisi yang paling dikenal.
Adzan Pitu merupakan tradisi mengumandangkan azan oleh tujuh muazin. Pemerintah Kelurahan Kesepuhan memasukkannya sebagai salah satu tradisi khas Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Tradisi ini memiliki cerita yang beragam di tengah masyarakat. Salah satu versi mengaitkannya dengan peristiwa wabah atau gangguan yang pernah terjadi pada masa lalu.
Namun, cerita mengenai asal-usul Adzan Pitu sebaiknya tidak langsung diposisikan sebagai fakta sejarah yang seluruh detailnya telah terbukti secara akademis.
Lebih tepat jika Adzan Pitu dipahami sebagai tradisi keagamaan dan warisan budaya masyarakat Cirebon yang terus melekat pada identitas Masjid Sang Cipta Rasa.
Cerita Rakyat dan Sejarah Perlu Dibedakan
Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki banyak cerita yang menarik. Salah satunya adalah kisah bahwa masjid tersebut dibangun hanya dalam satu malam.
Dokumen resmi Pemerintah Kota Cirebon yang membahas daya tarik wisata masjid memang mencatat cerita rakyat mengenai pembangunan dalam tempo satu malam dan kemudian digunakan untuk salat Subuh. Namun, dokumen tersebut secara eksplisit menyebutnya sebagai cerita rakyat yang berkembang di masyarakat.
Perbedaan ini penting.
Dalam penulisan artikel sejarah, legenda tetap boleh disampaikan karena merupakan bagian dari kekayaan budaya. Akan tetapi, penyajiannya harus menggunakan penanda seperti “menurut cerita rakyat”, “dalam tradisi masyarakat”, atau “dalam salah satu versi yang berkembang”.
Cara tersebut membuat artikel lebih kredibel sekaligus tetap menghargai warisan budaya lokal.
Masjid dalam Tata Ruang Keraton Kasepuhan
Letak Masjid Sang Cipta Rasa juga memiliki makna sejarah.
Pemerintah Kelurahan Kesepuhan menjelaskan bahwa di kawasan Keraton Kasepuhan terdapat pola tata ruang dengan keraton, alun-alun, masjid di sisi barat, dan pasar di sisi timur. Pola tersebut menggambarkan hubungan antara kekuasaan, agama, ruang publik, dan kegiatan ekonomi.
Masjid karena itu tidak berdiri sebagai bangunan yang terpisah dari kehidupan kota.
Ia menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat Cirebon pada masa lalu dan terus mempertahankan fungsi keagamaannya hingga sekarang.
Pada Juni 2026, Pemerintah Kota Cirebon bahkan menggelar salat berjamaah di Masjid Sang Cipta Rasa dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Cirebon ke-599. Pemerintah kota menyebut masjid tersebut sebagai bagian penting dari identitas sejarah Kota Cirebon.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa Berstatus Cagar Budaya Nasional
Nilai sejarah Masjid Sang Cipta Rasa bukan hanya berdasarkan cerita masyarakat.
Basis Data Cagar Budaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat Masjid Agung Kasepuhan Cirebon sebagai bangunan cagar budaya dengan SK Penetapan Nomor 238/M/1999, tertanggal 4 Oktober 1999, dengan peringkat Cagar Budaya Nasional.
Status tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam melihat masjid ini sebagai warisan budaya yang perlu dilindungi.
Dalam kerangka hukum Indonesia, pelestarian cagar budaya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan bentuk fisik bangunan. Nilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya juga menjadi bagian penting dari warisan tersebut.
Karena itu, menjaga Masjid Sang Cipta Rasa bukan hanya tugas pengelola atau pemerintah. Masyarakat dan pengunjung juga memiliki peran dengan menghormati aturan, menjaga kebersihan, dan tidak merusak bagian bangunan bersejarah.
Mengapa Masjid Sang Cipta Rasa Penting bagi Cirebon?
Ada beberapa alasan mengapa Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki posisi penting dalam sejarah Cirebon.
- Menjadi bagian dari sejarah perkembangan Islam
Masjid ini berkaitan dengan periode penting perkembangan Islam dan Kesultanan Cirebon.
- Memiliki arsitektur khas
Bentuk bangunannya memperlihatkan perpaduan unsur Islam dan budaya lokal yang berkembang di Jawa.
- Memiliki tradisi khas
Adzan Pitu menjadi salah satu tradisi yang paling dikenal dan melekat pada identitas masjid.
- Masih berfungsi sebagai tempat ibadah
Berbeda dengan peninggalan yang hanya menjadi objek museum, masjid ini tetap digunakan oleh masyarakat.
- Memiliki status cagar budaya nasional
Penetapan tahun 1999 memberikan dasar penting bagi upaya pelestarian bangunan tersebut.
Wisata Sejarah dan Religi di Cirebon
Bagi wisatawan yang tertarik dengan sejarah Cirebon, Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan salah satu lokasi yang menarik untuk dikunjungi.
Lokasinya yang berada di kawasan Keraton Kasepuhan membuat wisatawan dapat menggabungkan kunjungan religi dengan wisata sejarah dan budaya.
Namun, karena masjid tetap merupakan tempat ibadah dan bangunan cagar budaya, pengunjung perlu menjaga etika.
Beberapa hal sederhana yang perlu diperhatikan antara lain:
- Mengenakan pakaian yang sopan.
- Menjaga ketenangan di area ibadah.
- Tidak menyentuh atau merusak bagian bangunan bersejarah.
- Menjaga kebersihan.
- Mengikuti aturan pengelola.
- Menghormati jamaah yang sedang beribadah.
Dengan cara tersebut, wisata sejarah tidak hanya menjadi kegiatan mengambil foto, tetapi juga menjadi proses memahami warisan budaya.
Masjid Sang Cipta Rasa, Jejak Sejarah yang Masih Hidup
Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua bangunan bersejarah: kehidupan yang terus berjalan.
Bangunan ini bukan hanya objek penelitian atau tujuan wisata. Masyarakat masih datang untuk salat, tradisi keagamaan tetap dikenal, dan kawasan sekitarnya masih menjadi bagian dari kehidupan Kota Cirebon.
Di sinilah nilai pentingnya.
Sejarah bukan hanya tentang bangunan yang bertahan dari masa lalu. Sejarah menjadi lebih bermakna ketika warisan tersebut masih dapat dipahami, digunakan, dan dihargai oleh generasi berikutnya.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon merupakan salah satu ikon sejarah dan budaya terpenting di Kota Cirebon.
Masjid yang berada di kompleks Keraton Kasepuhan ini lahir pada akhir abad ke-15 dan memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan Islam serta Kesultanan Cirebon. Mengenai tahun pembangunannya, sumber resmi lokal menyebut sekitar 1480 M, sedangkan penelitian akademik menempatkannya sekitar 1498–1500 M. Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam menulis sejarah.
Keunikan arsitektur berupa atap limasan, pintu-pintu rendah, saka tatal, serta perpaduan unsur budaya lokal menjadikan masjid ini berbeda dari bangunan masjid modern. Tradisi Adzan Pitu juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masjid tersebut.
Lebih dari itu, statusnya sebagai cagar budaya peringkat nasional melalui SK Nomor 238/M/1999 semakin menegaskan nilai penting Masjid Agung Sang Cipta Rasa bagi sejarah Indonesia.
Pada akhirnya, Masjid Agung Sang Cipta Rasa bukan sekadar masjid tua di Cirebon.
Ia adalah ruang tempat agama, sejarah, arsitektur, tradisi, dan kehidupan masyarakat bertemu. Selama bangunan dan nilai-nilai yang melekat padanya terus dijaga, Masjid Sang Cipta Rasa akan tetap menjadi salah satu penanda penting perjalanan Cirebon dari masa lalu hingga masa kini.











