Siapa Saja Mereka? Tokoh Inspiratif Jawa Barat Terima Imam Jazuli Award 2026 di Cirebon

- Tim

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

HARINDRA MEDIA

HARINDRA MEDIA

TOKOH – Siapa Saja Mereka? Tokoh Inspiratif Jawa Barat Terima Imam Jazuli Award 2026 di Cirebon | Siapa saja tokoh yang dinilai memiliki kontribusi penting bagi masyarakat Jawa Barat hingga menerima Imam Jazuli Award 2026? Penghargaan yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tersebut menjadi sorotan karena menghadirkan figur dari berbagai bidang, mulai dari politik, pendidikan pesantren, organisasi keagamaan, hingga perjuangan keadilan sosial.

Penganugerahan Imam Jazuli Award 2026 berlangsung di Hotel Aston Cirebon, Kamis, 22 Oktober 2026. Berdasarkan pemberitaan NU Online Jabar dan Republika, penghargaan diberikan kepada tokoh inspiratif dan berpengaruh di Jawa Barat. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 1.000 peserta dari kalangan pesantren, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan profesional.

Nama-nama penerima penghargaan memperlihatkan beragam jalur pengabdian yang berakar pada tradisi pesantren. Sebagian berkiprah di lembaga legislatif, sebagian mengembangkan pendidikan Islam, sementara lainnya dikenal melalui pemikiran keagamaan dan gerakan sosial.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

harindra-media-tokoh17

Imam Jazuli Award 2026 Jadi Momentum Apresiasi Tokoh Jawa Barat

Imam Jazuli Award 2026 diselenggarakan oleh Imam Jazuli Foundation sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh-tokoh yang dinilai memberikan kontribusi bagi masyarakat. Penghargaan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Nasional yang tidak hanya mengenang sejarah perjuangan santri, tetapi juga menyoroti peran mereka dalam kehidupan modern.

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, menekankan pentingnya menjadikan Hari Santri sebagai ruang refleksi atas kontribusi pesantren dalam menjawab tantangan zaman.

Menurut pemberitaan Republika pada 24 Oktober 2026, penghargaan tersebut juga dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi pribadi terhadap tokoh-tokoh yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Direktur Utama Imam Jazuli Foundation, Hj. Imtiyaz Zay Balqis Jazuli, menyampaikan bahwa pihaknya akan menjajaki sinergi dengan para penerima penghargaan untuk mengembangkan gagasan dan gerakan di berbagai bidang, termasuk transformasi sosial, ekologi, dan kesetaraan gender.

Tokoh Penerima Imam Jazuli Award 2026

  1. Dr. KH. Cucun Ahmad Syamsurijal

Cucun Ahmad Syamsurijal merupakan Wakil Ketua DPR RI yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren di Cipasung, Tasikmalaya. Ia juga meraih gelar doktor di bidang Administrasi Publik dari Universitas Padjadjaran.

Kiprahnya di parlemen antara lain berkaitan dengan pengawalan kebijakan pendidikan pesantren. Penghargaan ini menyoroti peran figur berlatar belakang pesantren dalam memperjuangkan kepentingan pendidikan keagamaan melalui jalur kebijakan publik.

  1. Dr. KH. Maman Imanulhaq, M.M.

KH Maman Imanulhaq merupakan anggota DPR RI sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan di Majalengka. Ia memiliki pengalaman pendidikan pesantren di Baitul Arqom, Bandung, dan Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Namanya dikenal melalui kiprah dalam isu kemanusiaan, toleransi antarumat beragama, serta perlindungan perempuan dan anak. Perannya memperlihatkan hubungan antara pendidikan pesantren, kegiatan sosial, dan pengabdian melalui lembaga legislatif.

  1. KH. Dedi Wahidi
Baca Juga :  Peluang Bisnis Fotografi dan Videografi di Cirebon: Prospek, Pasar, dan Strategi Memulainya

KH Dedi Wahidi merupakan anggota DPR RI dan pengasuh Pondok Pesantren Kampus Hijau, Kamplongan. Ia memiliki latar belakang pendidikan pesantren di Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Kontribusinya mencakup perhatian terhadap pengembangan infrastruktur pendidikan pesantren, peningkatan fasilitas pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas madrasah. Bidang tersebut berkaitan dengan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih baik.

  1. KH. Juhadi Muhammad

KH Juhadi Muhammad menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat. Ia pernah menempuh pendidikan pesantren di Lirboyo, Kediri, sebelum melanjutkan studi di bidang hukum.

Kiprahnya di organisasi keagamaan berkaitan dengan konsolidasi organisasi, pemberdayaan ekonomi umat, moderasi beragama, dan penguatan tata kelola lembaga keagamaan. Peran organisasi semacam ini penting untuk memperkuat pelayanan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.

  1. Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin

KH Abun Bunyamin merupakan akademisi sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Purwakarta. Ia dikenal melalui pengembangan pendidikan yang memadukan khazanah keilmuan Islam klasik dengan pendidikan modern dan sains.

Pendekatan pendidikan terpadu tersebut menjadi salah satu contoh upaya pesantren dalam mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Islam. Pengembangan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia.

  1. Addin Jauharudin

Addin Jauharudin, yang dikenal sebagai Gus Addin, merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor. Kiprahnya berkaitan dengan pengembangan kompetensi kader, kepemimpinan generasi muda, dan kemandirian ekonomi.

Sejumlah inisiatif, termasuk BUMA dan Ansor University, disebut dalam pemberitaan sebagai bagian dari upaya pengembangan kapasitas kader dan adaptasi terhadap teknologi digital. Penguatan kompetensi tersebut relevan dengan tantangan generasi muda dalam menghadapi perubahan dunia kerja dan ekonomi.

  1. KH. Husein Muhammad

KH Husein Muhammad merupakan pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid di Cirebon. Ia dikenal luas melalui pemikiran Islam yang menyoroti kesetaraan gender, keadilan sosial, dan perlindungan hak-hak perempuan.

Latar belakang pendidikannya mencakup sejumlah lembaga pendidikan Islam, termasuk Universitas Al-Azhar di Kairo. Melalui pemikiran dan karya-karyanya, ia turut memperkaya diskusi mengenai hubungan antara ajaran Islam, kemanusiaan, dan keadilan dalam kehidupan masyarakat.

  1. Drs. H. Imron Rosyadi, M.Ag.

Imron Rosyadi merupakan mantan Bupati Cirebon yang pernah memimpin Kabupaten Cirebon selama dua periode. Ia memiliki latar belakang pendidikan pesantren di Babakan, Ciwaringin.

Pengabdiannya di pemerintahan daerah antara lain berkaitan dengan penyelarasan program pembangunan dan kebutuhan masyarakat pesantren, pengembangan sektor keagamaan, serta perlindungan sosial. Pengalaman tersebut memperlihatkan hubungan antara kebijakan pemerintah daerah dan kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.

  1. Nyai Hj. Masriyah Amva
Baca Juga :  Dulu Disegani, Kini Mulai Dilupakan: Kisah Tokoh Lokal Cirebon

Nyai Hj. Masriyah Amva merupakan pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy, Cirebon. Ia dikenal melalui pengembangan pendidikan keagamaan, karya sastra sufistik, dan pemikiran mengenai spiritualitas.

Kiprahnya juga berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan penguatan ruang partisipasi perempuan dalam kehidupan keagamaan. Kehadirannya dalam daftar penerima penghargaan menyoroti kontribusi ulama perempuan dalam pendidikan, pemikiran Islam, dan pembimbingan masyarakat.

  1. KH. Muhammad Musthofa Aqiel Sirodj

KH Muhammad Musthofa Aqiel Sirodj merupakan pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, sekaligus Ketua Umum Majelis Dzikir Hubbul Wathon.

Kiprahnya berkaitan dengan penguatan persatuan, komunikasi antara ulama dan pemerintah, serta penanaman nilai nasionalisme di kalangan santri. Peran tersebut mencerminkan kontribusi tokoh pesantren dalam menjaga hubungan sosial dan memperkuat kehidupan kebangsaan.

Makna Imam Jazuli Award bagi Dunia Pesantren?

Penerima Imam Jazuli Award 2026 berasal dari latar belakang yang beragam. Ada yang bergerak di bidang politik dan pemerintahan, ada yang mengembangkan pendidikan, dan ada pula yang menaruh perhatian pada kemanusiaan serta kesetaraan sosial.

Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian berbasis nilai pesantren dapat berlangsung di berbagai sektor. Pendidikan agama tidak harus membatasi seseorang untuk terlibat dalam perkembangan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, pemberdayaan ekonomi, maupun perubahan sosial.

Bagi generasi muda, perjalanan para penerima penghargaan dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai pentingnya kompetensi, integritas, dan konsistensi dalam menjalankan tanggung jawab. Penghargaan bukan semata-mata pengakuan atas pencapaian, tetapi juga pengingat agar kontribusi kepada masyarakat terus dilanjutkan.

Meski demikian, nilai sebuah penghargaan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seremoni penyerahannya. Dampak nyata bagi masyarakat, keberlanjutan program, dan kemampuan membangun kolaborasi menjadi aspek penting untuk terus diperhatikan.

Hari Santri Nasional dan Tantangan Pengabdian di Era Modern

Peringatan Hari Santri Nasional menjadi kesempatan untuk melihat kembali peran pesantren dalam kehidupan Indonesia. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pendidikan karakter, penguatan komunitas, dan kehidupan sosial.

Tantangan saat ini semakin beragam, mulai dari perubahan teknologi, kebutuhan peningkatan keterampilan, persoalan lingkungan, hingga perlindungan kelompok rentan. Karena itu, kolaborasi antara pesantren, pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan kalangan profesional dapat menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan solusi yang relevan.

Dalam konteks tersebut, rencana Imam Jazuli Foundation untuk menjajaki kolaborasi dengan para penerima penghargaan menjadi hal yang patut diikuti perkembangannya. Keberhasilan upaya tersebut nantinya dapat dinilai melalui program yang dijalankan, kelompok masyarakat yang memperoleh manfaat, dan keberlanjutan hasilnya.

Sumber rujukan:

  • NU Online Jabar, 23 Oktober 2026: Hari Santri 2026, Rais Syuriyah PBNU Kiai Imam Jazuli Beri Penghargaan 10 Tokoh Inspiratif dan Berpengaruh Jawa Barat.

Artikel Terkait

Prabowo Bahas Masa Depan 384 Peserta P3MD, Magang Dimulai 2027
Membanggakan! Dua Peneliti Indonesia Raih Indroyono Soesilo Award 2026, Ini Karya Mereka
Raline Shah Resmi Mundur dari Stafsus Menkomdigi, Ini Alasan dan Pernyataan Lengkapnya
Martha Tilaar Berpulang, Ini Jejak Sang Pelopor Industri Kecantikan Indonesia
Maestro Tari Topeng Cirebon: Mimi Soedji dan Perjuangan Menjaga Warisan Budaya
Sunan Gunung Jati dan Cirebon: Warisan Sejarah yang Membentuk Identitas Kota
KH Abbas Abdul Jamil “Singa dari Jawa Barat”, Ulama Pejuang dari Cirebon yang Mengukir Sejarah Kemerdekaan
Jarang Dibahas! 20 Tokoh Cirebon Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Siapa Saja?

Artikel Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 12:15 WIB

Prabowo Bahas Masa Depan 384 Peserta P3MD, Magang Dimulai 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Siapa Saja Mereka? Tokoh Inspiratif Jawa Barat Terima Imam Jazuli Award 2026 di Cirebon

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Membanggakan! Dua Peneliti Indonesia Raih Indroyono Soesilo Award 2026, Ini Karya Mereka

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Raline Shah Resmi Mundur dari Stafsus Menkomdigi, Ini Alasan dan Pernyataan Lengkapnya

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Martha Tilaar Berpulang, Ini Jejak Sang Pelopor Industri Kecantikan Indonesia

Berita Terbaru