TOKOH – Bukan Sekadar Wajah di Uang Rp20 Ribu, Ini Kisah Oto Iskandar di Nata Sang “Si Jalak Harupat” | Ada alasan mengapa wajah Oto Iskandar di Nata begitu mudah dikenali oleh masyarakat Indonesia. Selama bertahun-tahun, wajahnya menghiasi lembaran uang Rp20 ribu berwarna hijau dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun, di balik selembar uang tersebut terdapat kisah seorang tokoh yang jauh lebih besar daripada sekadar gambar pada mata uang.
Oto Iskandar di Nata merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional asal Bandung, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai pendidik, aktivis organisasi, tokoh politik, anggota lembaga persiapan kemerdekaan, hingga Menteri Negara pada pemerintahan awal Republik Indonesia. Karena keberaniannya dalam memperjuangkan kepentingan bangsa, ia dikenal dengan julukan “Si Jalak Harupat.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bank Indonesia mencatat bahwa Oto Iskandar di Nata menjadi gambar utama pada uang kertas Rp20.000 Tahun Emisi 2004 dan pada desain baru yang diterbitkan 1 Agustus 2011. Pada bagian belakang uang tersebut terdapat gambar dua pemetik daun teh yang bekerja di perkebunan, yang memiliki keterkaitan dengan Jawa Barat. (Bank Indonesia)
Menariknya, wajah Oto kini tidak lagi menjadi gambar utama pada pecahan Rp20 ribu. Pada uang Tahun Emisi 2016, misalnya, gambar utama digantikan oleh Dr. G.S.S.J. Ratulangi, sementara Oto tetap hadir sebagai tanda air atau watermark. (Bank Indonesia)
Lantas, siapa sebenarnya Oto Iskandar di Nata? Mengapa sosoknya begitu penting dalam sejarah Indonesia?

Oto Iskandar di Nata, Tokoh di Balik Uang Rp20 Ribu
Oto Iskandar di Nata lahir di Bandung pada 31 Maret 1897. Ia kemudian menempuh pendidikan hingga sekolah guru dan memilih dunia pendidikan sebagai salah satu jalan pengabdiannya kepada masyarakat. Data dalam Ensiklopedia Pahlawan Nasional mencatat bahwa setelah menyelesaikan HIS di Bandung, ia melanjutkan pendidikan di HKS atau Sekolah Guru Atas di Purworejo, Jawa Tengah. (Repositori Kemendikdasmen)
Pada masa tersebut, pendidikan memiliki arti penting bagi masyarakat pribumi. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi salah satu sarana untuk membangun kesadaran sosial dan kebangsaan.
Oto kemudian berkembang menjadi tokoh yang aktif dalam berbagai organisasi dan ruang politik. Pengalamannya sebagai pendidik menjadi salah satu fondasi bagi keterlibatannya dalam perjuangan masyarakat.
Mengapa Oto Dijuluki “Si Jalak Harupat”?
Nama Si Jalak Harupat merupakan julukan yang sangat erat dengan Oto Iskandar di Nata.
Bank Indonesia menyebut Oto dikenal dengan julukan tersebut karena keberaniannya dalam melawan penjajahan. Nama Si Jalak Harupat kemudian juga digunakan sebagai nama Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung. (Bank Indonesia)
Julukan itu menggambarkan karakter Oto yang berani dan tegas dalam menyampaikan pandangan.
Ia tidak dikenal sebagai tokoh yang hanya mengikuti keadaan. Dalam aktivitas politiknya, Oto menggunakan ruang yang tersedia untuk menyuarakan kepentingan masyarakat dan mengkritik kebijakan pemerintah kolonial.
Perjalanan dari Guru hingga Tokoh Pergerakan
Perjalanan Oto menunjukkan bahwa perjuangan menuju kemerdekaan dilakukan melalui banyak jalur.
Ia tidak langsung berada di pusat pemerintahan atau politik. Pendidikan menjadi salah satu bagian awal perjalanan hidupnya sebelum kemudian terlibat semakin aktif dalam organisasi dan kehidupan politik.
Dalam perkembangan berikutnya, Oto terlibat dalam organisasi seperti Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian terhadap persoalan pendidikan, sosial, ekonomi, dan masyarakat.
Keterlibatan dalam organisasi membuat ruang perjuangan Oto semakin luas. Ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan pendidikan, tetapi juga dengan persoalan politik dan kehidupan masyarakat pada masa kolonial.
Aktif di Volksraad
Salah satu bagian penting dari perjalanan politik Oto adalah keterlibatannya sebagai anggota Volksraad, lembaga perwakilan pada masa Hindia Belanda.
Menurut Ensiklopedia Pahlawan Nasional, Oto menjadi anggota Volksraad dan pada 1935 ditarik dari lembaga tersebut setelah memprotes pemerintah Belanda. (Repositori Kemendikdasmen)
Kisah tersebut memperlihatkan mengapa keberanian menjadi salah satu karakter yang melekat pada dirinya.
Di tengah sistem pemerintahan kolonial, Oto menggunakan posisi politiknya untuk menyampaikan kritik dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Oto Iskandar di Nata dan Paguyuban Pasundan
Perjuangan Oto juga tidak dapat dilepaskan dari Paguyuban Pasundan.
Organisasi tersebut menjadi salah satu wadah penting bagi masyarakat Sunda pada masa itu. Aktivitasnya mencakup berbagai bidang, termasuk pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, dan politik.
Museum Sumpah Pemuda mencatat bahwa Oto aktif dalam organisasi tersebut dan memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan masyarakat. Ia tidak hanya bergerak dalam politik, tetapi juga dalam bidang sosial dan kebudayaan. (Muspada)
Dari sini terlihat bahwa perjuangan Oto memiliki cakupan luas. Ia berusaha membangun masyarakat melalui organisasi sekaligus menyuarakan kepentingan rakyat dalam ruang politik.
Perjuangan Melalui Dunia Pers
Selain pendidikan dan politik, Oto juga memiliki peran dalam dunia pers.
Pada masa pendudukan Jepang, ia terlibat dalam surat kabar Tjahaja/Cahaya. Museum Sumpah Pemuda mencatat bahwa Oto menjadi salah satu tokoh yang aktif dalam surat kabar tersebut pada periode pendudukan Jepang. (Muspada)
Pers pada masa itu menjadi salah satu sarana komunikasi yang sangat penting. Melalui media, gagasan dan informasi dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Keterlibatan Oto dalam dunia pers kembali menunjukkan bahwa perjuangannya dilakukan melalui berbagai bidang.
Peran Oto dalam BPUPKI dan PPKI
Menjelang kemerdekaan Indonesia, posisi Oto semakin penting.
Ia terlibat dalam proses persiapan kemerdekaan dan tercatat sebagai anggota PPKI. Sumber dari Kementerian Pendidikan juga mencatat bahwa ia turut terlibat dalam proses yang berkaitan dengan penyusunan Undang-Undang Dasar 1945. (Repositori Kemendikdasmen)
Dalam perkembangan setelah Proklamasi, Oto juga ditunjuk menjadi ketua sebuah panitia kecil pada sidang PPKI 19 Agustus 1945. Panitia tersebut membahas berbagai urusan seperti rakyat, pemerintahan daerah, kepolisian, dan tentara kebangsaan. (Repositori Kemendikdasmen)
Peran tersebut menunjukkan bahwa Oto tidak hanya menjadi saksi lahirnya Republik Indonesia. Ia turut berada dalam proses awal membangun struktur pemerintahan negara yang baru merdeka.
Menjadi Menteri Negara pada Kabinet Pertama Republik Indonesia
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia memasuki fase yang sangat menentukan.
Republik Indonesia harus membangun pemerintahan sekaligus menghadapi persoalan keamanan dan politik yang kompleks.
Dalam kondisi tersebut, Oto Iskandar di Nata dipercaya menjadi Menteri Negara dalam Kabinet Pertama Republik Indonesia. Sumber Kementerian Pendidikan dan penelitian akademik mengenai dirinya mencatat posisi tersebut. (Repositori Kemendikdasmen)
Ia kemudian memiliki tugas yang berkaitan dengan persoalan keamanan rakyat. Posisi tersebut membuat Oto berada di tengah berbagai persoalan yang terjadi pada masa awal revolusi.
Akhir Tragis Sang “Si Jalak Harupat”
Perjalanan Oto Iskandar di Nata berakhir secara tragis.
Ia diculik pada akhir Oktober 1945 dan kemudian diketahui telah meninggal pada Desember 1945. Sumber Kementerian Pendidikan mencatat bahwa ia meninggal di Mauk, Banten, pada 20 Desember 1945. (Repositori Kemendikdasmen)
Penelitian Nina Herlina Lubis yang diterbitkan dalam jurnal Sosiohumaniora Universitas Padjadjaran menyebut bahwa sejak peristiwa tersebut, persoalan mengenai siapa pembunuh Oto, latar belakangnya, dan bagaimana persisnya pembunuhan itu terjadi menjadi bagian dari sejarah yang kompleks. (Garuda)
Karena itu, pemberitaan mengenai akhir hidup Oto sebaiknya disampaikan secara hati-hati. Ada sejumlah catatan sejarah mengenai penculikan dan pembunuhannya, tetapi detail mengenai aktor dan latar belakang peristiwa tersebut tidak seluruhnya dapat dipastikan secara sederhana.
Mengapa Oto Diculik?
Salah satu penelitian sejarah menyebut adanya tuduhan bahwa Oto dianggap sebagai kolaborator Jepang. Di sisi lain, terdapat persoalan konflik peran antara kedudukannya sebagai Menteri Negara yang harus menjalankan kebijakan pemerintah pusat dan situasi perjuangan para pemuda di Bandung. (Garuda)
Konteks ini penting untuk dipahami agar pembaca tidak melihat peristiwa tersebut secara hitam-putih.
Oto hidup pada masa revolusi yang penuh ketegangan. Berbagai kelompok memiliki kepentingan, strategi, dan pandangan yang tidak selalu sama mengenai cara mempertahankan kemerdekaan.
Oto Iskandar di Nata Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
Negara kemudian memberikan penghormatan resmi kepada Oto Iskandar di Nata.
Berdasarkan Ensiklopedia Pahlawan Nasional, Oto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 088/TK Tahun 1973 tanggal 6 November 1973. (Repositori Kemendikdasmen)
Penetapan tersebut merupakan bentuk pengakuan negara atas jasa dan perjuangannya.
Dengan status tersebut, Oto tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah lokal Jawa Barat. Namanya ditempatkan sebagai bagian dari sejarah perjuangan nasional Indonesia.
Mengapa Oto Iskandar di Nata Ada di Uang Rp20 Ribu?
Inilah bagian yang paling sering membuat masyarakat penasaran.
Bank Indonesia secara resmi mencatat Oto Iskandar di Nata sebagai gambar utama uang Rp20.000 Tahun Emisi 2004. Bagian belakang uang tersebut menampilkan gambar dua orang pemetik daun teh di perkebunan. (Bank Indonesia)
Bank Indonesia kemudian menerbitkan desain baru untuk uang Rp20.000 tersebut pada 1 Agustus 2011. Gambar utama bagian depan tetap Oto Iskandar di Nata, dengan warna dominan hijau dan ukuran 147 x 65 milimeter. (Bank Indonesia)
Pemilihan Oto tentu memiliki makna penghormatan terhadap tokoh nasional. Uang Rupiah tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, tetapi juga dapat menjadi media yang memperkenalkan tokoh dan identitas sejarah Indonesia kepada masyarakat.
Gambar Pemetik Teh di Bagian Belakang
Ada unsur lain yang menarik dari uang Rp20 ribu bergambar Oto.
Bagian belakang menampilkan dua pemetik daun teh yang sedang bekerja di perkebunan. Bank Indonesia menjelaskan bahwa perkebunan teh banyak ditemukan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. (Bank Indonesia)
Pemilihan gambar tersebut membuat desain uang memiliki hubungan dengan karakter wilayah Jawa Barat.
Dengan demikian, sisi depan dan belakang uang tersebut sama-sama memiliki cerita: bagian depan memperkenalkan tokoh nasional, sedangkan bagian belakang menampilkan aktivitas masyarakat dan potensi perkebunan yang berkaitan dengan wilayah Jawa Barat.
Apakah Oto Masih Ada di Uang Rp20 Ribu Sekarang?
Jawabannya perlu dijelaskan secara tepat.
Oto Iskandar di Nata tidak lagi menjadi gambar utama pecahan Rp20 ribu pada emisi yang lebih baru.
Pada Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2016, gambar utama pecahan Rp20 ribu adalah Dr. G.S.S.J. Ratulangi, sedangkan Oto Iskandar di Nata digunakan sebagai tanda air atau watermark. (Bank Indonesia)
Hal tersebut penting karena banyak orang masih mengingat Oto sebagai “tokoh di uang Rp20 ribu” berdasarkan uang yang pernah mereka gunakan.
Bank Indonesia juga menerbitkan uang Rp20 ribu Tahun Emisi 2022 dan menetapkannya sebagai alat pembayaran yang sah mulai 17 Agustus 2022. Peraturan Bank Indonesia Nomor 24/10/PBI/2022 juga menyebut bahwa uang Rp20 ribu Tahun Emisi 2004 dan 2016 tetap berlaku sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran. (Bank Indonesia)
Artinya, istilah “Oto Iskandar di Nata di uang Rp20 ribu” benar jika merujuk pada emisi tertentu, terutama Tahun Emisi 2004 dan desain baru yang diterbitkan pada 2011.
Fakta Penting Oto Iskandar di Nata
Agar lebih mudah diingat, berikut sejumlah fakta penting tentang tokoh yang dikenal sebagai Si Jalak Harupat:
- Nama: R. Oto Iskandar di Nata.
- Lahir: Bandung, 31 Maret 1897.
- Julukan: Si Jalak Harupat.
- Latar belakang: pendidik dan tokoh pergerakan.
- Aktivitas organisasi: antara lain Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan.
- Pernah menjadi anggota: Volksraad.
- Terlibat dalam proses persiapan kemerdekaan: termasuk PPKI.
- Jabatan setelah kemerdekaan: Menteri Negara pada Kabinet Pertama Republik Indonesia.
- Wafat: Mauk, Banten, 20 Desember 1945, menurut catatan pemerintah.
- Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional: Keppres Nomor 088/TK Tahun 1973 tanggal 6 November 1973.
- Pernah menjadi gambar utama: uang Rp20.000 Tahun Emisi 2004 dan desain baru yang diterbitkan 1 Agustus 2011.
- Pada emisi 2016: Oto menjadi tanda air pada uang Rp20 ribu, bukan gambar utama. (Repositori Kemendikdasmen)
Nilai Keteladanan dari Oto Iskandar di Nata
Kisah Oto Iskandar di Nata memberikan pelajaran bahwa perjuangan membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui satu jalur.
Ia pernah berada di dunia pendidikan, organisasi, politik, pers, dan pemerintahan. Setiap bidang menjadi ruang untuk memberikan kontribusi sesuai dengan keadaan zamannya.
Keberanian menyampaikan pendapat juga menjadi salah satu karakter yang paling menonjol dari dirinya. Julukan Si Jalak Harupat menjadi simbol dari keberanian tersebut.
Bagi generasi sekarang, kisah Oto dapat menjadi pengingat bahwa perubahan membutuhkan keberanian, pengetahuan, dan kemauan untuk mengambil bagian dalam persoalan masyarakat.
Uang Rp20 Ribu dan Cara Bangsa Mengingat Sejarah
Ketika sebuah tokoh pahlawan ditempatkan dalam desain uang Rupiah, masyarakat secara tidak langsung berhadapan dengan sejarah setiap kali menggunakan uang tersebut.
Itulah sebabnya uang kertas dapat menjadi salah satu media pengenalan sejarah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Oto Iskandar di Nata merupakan contoh nyata. Banyak orang mungkin tidak mengetahui seluruh perjalanan hidupnya, tetapi pernah melihat wajahnya berkali-kali ketika menggunakan uang Rp20 ribu.
Dari sinilah pentingnya mengenali kembali siapa tokoh yang berada di balik gambar tersebut.
Oto Iskandar di Nata bukan sekadar wajah yang pernah menghiasi uang Rp20 ribu. Ia adalah Pahlawan Nasional asal Bandung yang memiliki perjalanan panjang sebagai pendidik, aktivis organisasi, tokoh politik, bagian dari proses persiapan kemerdekaan, dan Menteri Negara pada pemerintahan awal Republik Indonesia.
Julukan “Si Jalak Harupat” melekat pada dirinya karena keberanian dalam menyuarakan perjuangan dan melawan penjajahan. Negara kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 088/TK Tahun 1973 tanggal 6 November 1973. (Repositori Kemendikdasmen)
Dalam sejarah Rupiah, Oto menjadi gambar utama pecahan Rp20.000 Tahun Emisi 2004 dan tetap digunakan pada desain baru yang diterbitkan 1 Agustus 2011. Pada bagian belakang terdapat gambar pemetik teh yang berkaitan dengan perkebunan teh, terutama di Jawa Barat. (Bank Indonesia)
Namun, masyarakat juga perlu mengetahui bahwa desain Rupiah terus mengalami perubahan. Pada Tahun Emisi 2016, gambar utama pecahan Rp20 ribu adalah Dr. G.S.S.J. Ratulangi, sementara Oto Iskandar di Nata ditempatkan sebagai tanda air. (Bank Indonesia)
Pada akhirnya, kisah Oto mengajarkan bahwa sebuah gambar di uang kertas dapat menyimpan cerita besar. Di balik nominal Rp20 ribu, pernah ada wajah seorang pejuang bernama Oto Iskandar di Nata—tokoh yang keberaniannya membuatnya dikenang sebagai “Si Jalak Harupat”.









