Kedai Kopi Makin Menjamur di Cirebon, Masih Bisa Cuan atau Pasarnya Sudah Sesak?

- Tim

Jumat, 11 September 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

HARINDRA MEDIA

HARINDRA MEDIA

BISNIS – Kedai Kopi Makin Menjamur di Cirebon, Masih Bisa Cuan atau Pasarnya Sudah Sesak? | Kedai kopi kini bukan lagi sekadar tempat membeli minuman. Di Cirebon, bisnis ini berkembang menjadi bagian dari aktivitas kuliner, tempat bertemu, bekerja, hingga bersantai. Dari kedai sederhana hingga kafe dengan konsep yang lebih modern, pilihan bagi konsumen semakin beragam.

Data terbaru memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi dan konsumsi di Kota Cirebon masih cukup besar. BPS Kota Cirebon mencatat terdapat sekitar 46.000 usaha di luar sektor pertanian, dengan sektor perdagangan menyumbang 33,25 persen dan sektor akomodasi serta makan minum sebesar 26,03 persen. BPS juga menyebut konsumsi rumah tangga dan aktivitas wisatawan domestik menjadi bagian penting dalam menopang perekonomian kota.

Pada Januari 2026, perjalanan wisatawan nusantara dengan tujuan Kota Cirebon tercatat 245,81 ribu perjalanan. Angka tersebut memang turun 10,44 persen dibandingkan Desember 2025, tetapi tetap menunjukkan adanya aktivitas pergerakan konsumen yang dapat menjadi salah satu faktor pendukung sektor kuliner dan minuman.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jadi, apakah bisnis kopi di Cirebon masih bisa menghasilkan keuntungan? Peluangnya masih ada, tetapi persaingannya menuntut strategi yang jauh lebih matang.

harindra-media-bisnis21

Bisnis Kopi di Cirebon Masih Punya Peluang

Banyaknya kedai kopi tidak otomatis berarti pasar sudah jenuh.

Justru, keberadaan banyak pelaku usaha menunjukkan bahwa sektor makanan dan minuman memiliki aktivitas ekonomi yang cukup besar. Namun, kondisi tersebut tidak berarti setiap kedai otomatis akan berhasil.

Konsumen memiliki banyak pilihan. Mereka bisa memilih berdasarkan harga, rasa, lokasi, kenyamanan, pelayanan, suasana, merek, maupun pengalaman yang ditawarkan.

Karena itu, persoalan utama bagi calon pengusaha bukan hanya berapa banyak kopi yang bisa dijual, tetapi bagaimana membuat konsumen memiliki alasan untuk datang dan kembali.

Pasar Ada, Tetapi Konsumen Tidak Otomatis Menjadi Pelanggan

Ini merupakan perbedaan penting yang sering luput ketika seseorang melihat bisnis kopi dari luar.

Sebuah kawasan yang dipenuhi kedai belum tentu berarti semua kedai memiliki pelanggan yang sama. Setiap usaha bisa memiliki segmen berbeda, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, keluarga, komunitas, hingga wisatawan.

Artinya, peluang tetap terbuka selama pelaku usaha mampu menemukan kebutuhan konsumen yang belum dilayani dengan baik.

Pasar yang ramai bukan masalah utama. Tidak memiliki pembeda justru bisa menjadi masalah yang lebih besar.

Mengapa Kedai Kopi Terus Bermunculan?

Salah satu daya tarik bisnis kopi adalah fleksibilitas model usahanya.

Usaha dapat dikembangkan dalam bentuk kedai sederhana, konsep take away, kios kecil, maupun rumah minum atau kafe dengan tempat yang lebih luas.

Dalam KBLI 2025, usaha seperti rumah minum/kafe tercantum dalam KBLI 56303, sedangkan KBLI 56304 mencakup aktivitas kedai minuman, termasuk kedai kopi dan kedai jus. (OSS RBA)

Klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas usaha penyediaan minuman memiliki kategori usaha yang jelas dalam sistem perizinan.

Namun, kemudahan membuat konsep usaha tidak boleh disamakan dengan jaminan keuntungan. Semakin mudah sebuah model bisnis ditiru, semakin besar pula kemungkinan munculnya kompetitor dengan konsep yang serupa.

Baca Juga :  Peluang Bisnis Kuliner di Cirebon 2026: 8 Ide Usaha Menjanjikan dan Panduan Legalitas

Persaingan Kedai Kopi Cirebon Semakin Menuntut Diferensiasi

Ketika konsumen memiliki banyak pilihan, sekadar menjual kopi menjadi semakin sulit dijadikan keunggulan.

Calon pengusaha perlu menjawab satu pertanyaan sederhana:

Mengapa pelanggan harus memilih kedai saya dibandingkan kedai lain?

Jawabannya tidak selalu harus berupa menu yang benar-benar baru. Diferensiasi dapat dibangun melalui berbagai aspek, seperti:

  • harga yang sesuai dengan target konsumen;
  • kualitas dan konsistensi rasa;
  • lokasi yang mudah dijangkau;
  • pelayanan;
  • suasana tempat;
  • kecepatan penyajian;
  • konsep yang kuat;
  • menu pendamping;
  • layanan pesan antar;
  • atau pengalaman pelanggan.

Dengan kata lain, kopi hanyalah salah satu bagian dari produk. Konsumen bisa saja membeli minuman, tetapi alasan mereka kembali dapat berasal dari pengalaman keseluruhan.

Jangan Terjebak Perang Harga

Salah satu risiko ketika persaingan semakin ketat adalah munculnya kecenderungan menurunkan harga untuk menarik pelanggan.

Strategi harga memang dapat digunakan, tetapi harus dihitung secara hati-hati.

Harga jual harus mampu menutup biaya bahan baku dan biaya operasional lainnya. Jika harga terlalu rendah sementara biaya tetap tinggi, peningkatan jumlah transaksi belum tentu menghasilkan keuntungan yang sehat.

Karena itu, pengusaha sebaiknya tidak hanya menghitung omzet.

Omzet besar tidak selalu berarti laba besar.

Biaya sewa, bahan baku, tenaga kerja, listrik, air, kemasan, pemasaran, perawatan peralatan, hingga biaya lain yang berkaitan dengan operasional perlu diperhitungkan sebelum menentukan harga jual.

Hitung BEP Sebelum Membuka Kedai

Salah satu cara sederhana untuk menguji kelayakan usaha adalah menghitung break-even point (BEP) atau titik impas.

Sebagai ilustrasi, sebuah kedai memiliki biaya tetap Rp10 juta per bulan. Jika kontribusi keuntungan setelah biaya variabel rata-rata Rp10.000 untuk setiap gelas, maka dibutuhkan sekitar 1.000 gelas per bulan untuk mencapai titik impas.

Angka tersebut hanya contoh perhitungan, bukan gambaran biaya maupun penjualan rata-rata kedai kopi di Cirebon.

Namun, simulasi semacam ini penting karena calon pengusaha dapat menguji apakah target penjualan yang direncanakan realistis.

Jika targetnya 1.000 gelas per bulan, misalnya, berarti diperlukan rata-rata sekitar 33–34 gelas per hari. Dari sini pengusaha dapat membandingkan target tersebut dengan kapasitas lokasi, jumlah calon konsumen, jam operasional, dan tingkat persaingan.

Lokasi Tetap Penting, Tetapi Bukan Segalanya

Lokasi sering disebut sebagai salah satu faktor penting dalam bisnis kedai kopi. Namun, lokasi strategis tidak otomatis menjamin keberhasilan.

Sebuah tempat yang ramai kendaraan belum tentu memiliki konsumen yang sesuai dengan konsep usaha. Sebaliknya, lokasi yang tidak berada di titik paling ramai masih dapat memiliki peluang jika mampu menjangkau segmen tertentu.

Sebelum menyewa tempat, calon pengusaha dapat melakukan survei sederhana:

  1. Amati jumlah kompetitor di sekitar lokasi.
  2. Perhatikan aktivitas calon konsumen pada jam berbeda.
  3. Identifikasi karakter masyarakat di sekitar.
  4. Bandingkan harga produk pesaing.
  5. Perhatikan akses kendaraan dan parkir.
  6. Hitung biaya sewa dibandingkan dengan potensi penjualan.

Survei seperti ini jauh lebih aman daripada menentukan lokasi hanya karena melihat sebuah kedai lain terlihat ramai.

Legalitas Usaha Juga Harus Dipersiapkan

Selain pasar dan modal, aspek legalitas perlu menjadi bagian dari perencanaan.

Baca Juga :  Hobi Jadi Cuan! Ini Peluang Bisnis Kreatif Anak Muda di Cirebon yang Makin Menjanjikan

Saat ini, penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko diatur melalui PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Regulasi tersebut mulai berlaku pada 5 Juni 2025 dan mencabut PP Nomor 5 Tahun 2021. (Database Peraturan | JDIH BPK)

PP tersebut mengatur berbagai aspek perizinan berusaha, termasuk Perizinan Berusaha, PB UMKU, standar, OSS, pengawasan, hingga sanksi. Sistemnya menggunakan pendekatan berdasarkan tingkat risiko kegiatan usaha.

Bagi pelaku usaha, NIB menjadi bagian penting dalam proses legalitas melalui sistem OSS. OSS juga menyediakan pencarian KBLI dan informasi mengenai tingkat risiko serta kewajiban usaha.

Karena itu, calon pemilik kedai sebaiknya menentukan klasifikasi kegiatan usaha dengan tepat sebelum menjalankan bisnis.

Apakah Bisnis Kopi di Cirebon Masih Layak?

Jawabannya masih layak dipertimbangkan, tetapi bukan berarti setiap konsep kedai kopi akan otomatis menguntungkan.

Data BPS menunjukkan sektor akomodasi dan makan minum memiliki porsi 26,03 persen dari sekitar 46.000 usaha nonpertanian di Kota Cirebon. Di sisi lain, aktivitas wisatawan juga tetap berjalan dengan 245,81 ribu perjalanan tujuan Kota Cirebon pada Januari 2026. (Badan Pusat Statistik Kota Cirebon)

Data tersebut menunjukkan adanya aktivitas pasar, tetapi tidak dapat digunakan sebagai jaminan bahwa sebuah kedai tertentu pasti sukses.

Keberhasilan tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha membaca pasar, mengendalikan biaya, memilih lokasi, menentukan harga, menjaga kualitas, dan membangun pelanggan.

Strategi Agar Kedai Baru Tidak Sekadar Ikut Tren

Bagi calon pengusaha yang masih mempertimbangkan bisnis kopi di Cirebon, beberapa hal berikut layak menjadi perhatian:

  1. Tentukan target konsumen

Jangan mencoba menjual kepada semua orang sejak awal. Tentukan siapa pelanggan utama yang ingin dilayani.

  1. Buat pembeda yang jelas

Cari alasan yang membuat konsumen memilih kedai tersebut, bukan sekadar karena menjual kopi.

  1. Hitung biaya secara realistis

Pisahkan biaya tetap dan biaya variabel. Jangan menentukan harga hanya berdasarkan harga kompetitor.

  1. Uji pasar sebelum ekspansi

Jika memungkinkan, validasi menu dan harga dalam skala kecil sebelum mengeluarkan modal lebih besar.

  1. Perhatikan pelanggan lama

Mendatangkan pelanggan baru membutuhkan biaya dan usaha. Karena itu, mempertahankan pelanggan yang sudah pernah datang juga penting.

Kedai kopi makin menjamur di Cirebon, tetapi belum berarti peluang bisnisnya sudah tertutup.

Data ekonomi Kota Cirebon menunjukkan aktivitas sektor akomodasi dan makan minum masih memiliki porsi besar. Arus perjalanan wisatawan juga menunjukkan adanya aktivitas konsumsi yang tetap berjalan.

Namun, semakin banyak pilihan membuat konsumen semakin selektif. Pengusaha yang hanya mengandalkan tren kopi, harga murah, atau desain tempat yang menarik akan menghadapi tantangan lebih besar jika tidak memiliki perhitungan bisnis yang kuat.

Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apakah bisnis kopi di Cirebon masih bisa cuan?”

Pertanyaannya adalah: “Apakah kedai yang akan saya buka memiliki alasan yang cukup kuat bagi konsumen untuk datang, membeli, dan kembali?”

Jika jawabannya jelas, peluang masih terbuka. Jika tidak, ramainya tren kedai kopi justru bisa menjadi tanda bahwa persaingan harus dihitung lebih serius sebelum modal dikeluarkan.

Artikel Terkait

Bisnis Laundry di Cirebon: Mengapa Usaha Ini Tetap Dicari di Tengah Persaingan?
Wisatawan Terus Bergerak, Peluang Bisnis Ikut Terbuka! Ini Potensi Bisnis Travel dan Wisata di Cirebon
Bisnis Catering di Cirebon Bisa Jadi Peluang Menjanjikan? Ini Modal, Target Pasar, dan Potensi Keuntungannya
Bisnis Rental Kamera di Cirebon: Peluang Cuan atau Malah Boncos?
Jangan Cuma Jadi Pembeli! Bisnis Souvenir & Hampers di Cirebon Bisa Jadi Ladang Cuan
Fashion Lokal Cirebon Makin Naik Daun! Ini Peluang Bisnis di Tengah Ledakan E-Commerce
Banyak yang Belum Tahu! Peluang Bisnis Sederhana Ini Ternyata Punya Pasar Besar
Franchise atau Bangun Brand Sendiri? Ini 10 Keuntungan yang Wajib Anda Ketahui Sebelum Memilih

Artikel Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 10:00 WIB

Bisnis Laundry di Cirebon: Mengapa Usaha Ini Tetap Dicari di Tengah Persaingan?

Selasa, 29 September 2026 - 10:30 WIB

Wisatawan Terus Bergerak, Peluang Bisnis Ikut Terbuka! Ini Potensi Bisnis Travel dan Wisata di Cirebon

Selasa, 22 September 2026 - 16:00 WIB

Bisnis Catering di Cirebon Bisa Jadi Peluang Menjanjikan? Ini Modal, Target Pasar, dan Potensi Keuntungannya

Sabtu, 19 September 2026 - 16:20 WIB

Bisnis Rental Kamera di Cirebon: Peluang Cuan atau Malah Boncos?

Kamis, 17 September 2026 - 10:00 WIB

Jangan Cuma Jadi Pembeli! Bisnis Souvenir & Hampers di Cirebon Bisa Jadi Ladang Cuan

Berita Terbaru